Salahkah Bila Menunggu Orang yang Tepat

Tidak ada jawaban pasti mengenai salahkah bila menunggu orang yang tepat. Jawabannya terkadang mempertimbangkan keadaan yang dialami sesorang. Ini bisa dipengaruhi oleh kondisi usia, kondisi fisik, kondisi ekonomi dan kondisi keluarga.

Bila seorang wanita lebih memilih untuk menunggu laki-laki yang tepat maka ia akan cenderung melewatkan banyak tawaran yang datang padanya. Pada dasarnya mereka yang bertindak seperti ini bisa disebabkan oleh seringnya ia diperlakukan secara tidak adil oleh pasangan semasa ia berpacaran. Bisa jadi sang wanita merasa sering disakiti atau bahkan lebih dari itu.

Sementara bagi seorang pria terkadang yang menjadi persoalan utamanya adalah ketidak percayaan dirinya untuk menyampaikan perasaannya pada seorang gadis. Pria seperti ini pada dasarnya memiliki perasaan yang penuh cinta dan kasih sayang, namun dirinya dibendung oleh pesimisnya yang lebih tinggi. Kondisi lain bagi laki-laki yang membuatnya lama untuk memutuskan ialah kondisi ekonomi.

Baik perempuan maupun laki-laki memiliki keterbatasan, perempuan kadang ditempatkan pada keadaan untuk tidak lagi memilih atau tidak lagi menolak. Pada kondisi ini perempuan memang sudah membuka diri dan memilih untuk tidak lagi mengharap yang lebih baik lagi seperti yang ia bayangkan mengenai laki-laki harapannya. Meski demikian tidak berarti bahwa perempuan yang dalam kondisi ini tidak bahagiah pada rumah tangganya. Keadaan bahagiah atau tidak akan dipengaruhi oleh kondisi setelah ia menikah.

Bagi perempuan yang mendapat pasangan romantis, serta mendukung pasangannya maka, akan memberi aura positif dalam keluarganya. Selain itu perempuan juga akan dihadapkan pada kondisi tentang siapa mertuanya. Apakah mertuanya menerima keadaan dirinya atau justru menolak. Bagi kalian perempuan, jangan pernah lakukan kesalahan besar dalam hidup ini yang justru berakibat pada rendahnya martabatmu di hadapan mertua dan iparmu. Kondisi menikah setelah hami merupakan contoh kasus pada pembahasan ini. Perempuan sangat diharapkan melangkah pada jenjang pernikahan dalam keadaan suci tubuh dan rohaninya. Hal inipun akan berdampak positif bagi keturunanmu kelak.

Untuk laki-laki jangan juga menganggap hanya kalian yang berhak menerima perempuan yang suci dan bersih. Tetapi hendaknya pertimbangkan juga keadaan yang kalian alami. Kain tidak akan kotor bila tiada noda yang jatuh diatasnya, kamu tidak akan tiba-tiba mendapat kain kotor bila kamu tidak pernah melewati kotoran dalam perjalananmu. Entah dikehidupan sebelumnya atau dalam kehidupan ini juga mungkin kau pernah berbuat kesalahan.

Semua pasti menyadari betapa pentingnya menjaga diri, perasaan dan sosial bermasyarakat. Dengan cara yang sama menerima dan diterima oleh pasangan dalam kondisi apapun adalah hal yang terbaik. Inilah alasannya kemudian banyak yang menuliskan bahwa "jangan terburu-buruh menikah hanya karena teman sebayamu sudah menikah".

Pernakah kamu mendengar lagu "apakah didalam cinta ada cinta" jawaban sesungguhnya hanya bisa diketahui oleh kondisi mengapa pertanyaan itu muncul. Maksudnya mengapa pertanyaan ini muncul, apakah ini karena kamu baru saja dikhianati, diselingkuhi dan lainnya. Oh yahh perlu diperhatikan bahwa khusus kata "selingkuh" lebih cocok disematkan bagi yang sudah memiliki pasangan. Maksudnya, jika seorang laki-laki yang sudah beristri mengencani wanita lain maka, laki-laki tersebut disebut selingkuh. Lalu bagaimana dengan wanitanya? Jika wanita tersebut juga sudah punya suami maka, mereka berdua disebut selingkuh.

Selingkuh dalam masa pacaran apakah dibenarkan? Jawabannya maukah jika pacarmu melakukan hal yang sama? Jika kamu mengatakan bahwa itu tidak masalah, berarti anda sedang menjalani masa pacaran yang tidak serius. Mereka yang berpacaran pada dasarnya mengharapkan kehidupan bersama, ini artinya berpacaran hanya untuk yang siap menikah atau sudah dewasa. Lalu bagaimana dengan mereka yang masih ingusan tapi sudah berpacaran, itu bisa jadi belum siap menikah, akan tetapi muncul nafsu birahi yang mendorong untuk memiliki pasangan. Pada kondisi ini keinginan untuk melampiaskan nafsu jauh lebih besar dibanding keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.

Tetapi, banyak kok yang berpacaran sejak mereka duduk di bangku SMP, SMA, kuliah kemudian bertahan dan berakhir di pelaminan, kondisinya kalau ini bagaimana. Maka, bisa dikatakan mereka yang berhasil melewati masa yang panjang ini bisa masuk dalam kategori dewasa sebelum waktunya dan memilih bertahan hingga ia benar-benar mengerti mengapa ia berpacaran.

Kembali ke judul, sebenarnya salah benar perlu kamu cermati bagaimana bisa pertanyaan-pertanyaan muncul. Maka mulai hari ini ubahlah kondisimu untuk lebih menerima lingkungan dibanding menyakiti diri sendiri dengan selalu menolak.