Relokasi Pura Hyang Api di Payangan Menuai Kontroversi

Krama Tolak Relokasi Pura Hyang Api

Krama Tolak Relokasi Pura Hyang Api

Jakarta, GoSulbar -- Pengembang wisata Agro Desa Buahan, Payangan, menuai polemik dari warga setempat yang tidak terima relokasi Pura Hyang Api. Warga setempat menilai relokasi pura yang sejak lama berdiri itu tidak berdasarkan pada restu warga setempat.

Sedikitnya 11 Kk Krama (warga) pangempon Pura Hyang Api, di kawasan tegalan Lenge, Banjar Buahan, Desa Pakraman Buahan, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar, menolak relokasi tersebut. Pura yang berdiri di atas tanah lima are ini dipindahkan sekitar 300 meter ke arah timur laut oleh investor pengembang agro wisata di lokasi setempat.

Penolakan itu diungkapkan sejumlah pangempon pura, mereka antara lain Nyoman Jeljel (47), I Wayan Sadia (69), Nyoman Suarya (45), dan lainnya.

Saat dijumpai di Desa Buahan pada Selasa (16/5/2017) Nyoman Jeljel menjelaskan, bertepatan dengan Hari Raya Kuningan Sabtu, 17 September 2016, ada paruman 11 pangempon Pura Hyang Api dihadiri I Wayan Terima yang bertindak sebagai perantara investor. Wayan Terima yang memandu paruman saat itumenyampaikan bahwa ada investor akan membangun agro wisata yang salah satu kegiatannya adalah memindahkan pura Hyang Api ke sebuah lokasi. Bahkan saat ini pura yang dinajikan telah dibangun.

"Dalam paruman ini memang tak ada krama (warga) yang menyatakan setujupura akan dipindahkan, karena investornya tak ada dalam puruman" jelasnya

Delapan hari kemudian lanjut Nyomen Jeljel, paruman kembali diadakan yang dipandu oleh saye Pura, I Made Geten dan Made Mutaram. Hadir pula I Wayan Terima selaku perantara investor. Saat pembahasan kali ini warga setempat tetap menyatakan menolak permintaan investor untuk memindahkan pura.

"Kami heran, selaku pangempon pura, kami belum menyetujui relokasi pura ini, kok sudah dibuatkan pura pengganti. Bahkan bangunan pura pengganti ini hampir 90 persen," kesal Wayan Ceger.

Adapun I Wayan Sadia yang juga pangempon pura meminta agar investor memahami persyaratan pembangunan pura. Salah satunya penentuan lokasi, petunjunjuk Ida Bhatara-bhatari melalui pemangku. Wayan Sadia berharap perjanjian secara hukum terkait relokasi pura. "Agar jangan nanti setelah saya mati anak saya disalahkan menerima warisan berupa pura ini." kata Sadia.

Nyoman Suarya (45) mengaku kaget dengan adanya pura pengganti, padahal dirinya belum menyetujui dilakukannya relokasi. Saat menghadiri paruman terkait adanya investor wisata yang dimaksud, dirinya meminta waktu untuk memberikan pandangan setuju atau tidaknya.

Pura Hyang Api di Banjar/Desa Buahan ini dibangun diatas lahan seluas 5 are. Bangunannya terdiri dari satu Gedong Panyineban, Pangaruman, Sedahan Panyarikan, dan Pawedaan serta Perantenan. Selain itu ada juga 2 Palinggih Sedahan Apit Lawang dan 2 Panggungan pangempon 11 KK.

Secara terpisah I Wayan Terima membantah jika ada pangempon menyatakan relokasi pura ini tanpa persetujuan pangempon, menurutnya persetujuan sudah diberikan saat ada paruman yang juga dihadiri oleh pangempon pura ketika Kuningan lalu dan pada waktu 25 September 2016.

Ia mengaku belum mendapatkan tanda tangan dari pangempon pura untuk persetujuan relokasi itu.

"Saya dapat persetujuan relokasi pura dalam paruman berupa pararem. Ada saksi pemangkunya," kata Wayan Terima.

Ia mengakui tak tahu nama perusahaan pengembang wisata asal Jakarta itu, investasi ini belum mendapat izin. (nv/NusaBali)