IDI Heran Ada Sindikat Bisnis Jual Beli Ginjal

44a94335-5e95-422e-8bbc-265cb91c0d3d_169Jakarta, GoSulbar.com -- Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku heran dengan adaya sindikat penjualan organ tubuh manusia yang baru saja dibongkar Mabes Polri. Sebab menurut IDI, prosedur donor ginjal tak dapat dilakukan sembarangan.

"Transplantasi organ tubuh itu harus ada kecocokan, tidak bisa sembarangan. Makanya agak mengherankan juga kalau sembarang diambil mau diserahkan ke siapa?" kata ketua terpilih IDI, Prof Daeng Muhammad Saqih saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (30/1/2016).

Menurut Daeng, biasanya transplantasi ginjal diambil dari keluarga terdekat agar ada kecocokan. Itu pun, tak semua keluarga dekat saling memiliki kecocokan. Biasanya, kata Daeng, yang paling cocok adalah saudara kembar. "Waktu ditanam terus ditolak, itu bisa juga," ujarnya.

Oleh karena itu, biasanya prosedur transplantasi ginjal tidak dilakukan sembarangan. Selain ditanya kesetujuannya, ginjal pendonor juga harus dipastikan cocok dengan ginjal yang dibutuhkan oleh tubuh pasien. Pendonor juga harus dipastikan tidak terganggu metabolisme tubuhnya dan diprediksi tidak mempengaruhi kualitas hidupnya ke depan ketika hanya hidup dengan satu ginjal.

"Jadi yang harus dipastikan bukan hanya pendonornya oke, tapi yakin bermanfaat nggak (untuk pasien). Jangan sampai sia-sia semua," ucapnya.

Tak hanya itu, lokasi transplantasi tak bisa sembarangan, yakni hanya rumah sakit yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan. Sayangnya Daeng tak hafal rumah sakit mana saja yang telah ditunjuk Menkes untuk operasi cangkok ginjal tersebut.

Kasus ini mencuat setelah Bareskrim Mabes Polri mengungkap sindikat jual beli ginjal. Hasil penyelidikan sementara, seorang pria berinisial HS mengajak atau menawarkan kepada AG dan DD untuk merekrut calon korban.

Sebagai imbalannya, HS menjanjikan uang sebesar Rp 10 juta per orang. Salah satu korban, Ifan mengaku menjual ginjalnya dengan bayaran Rp 75 juta. Warga Bandung ini terpaksa menyerahkan organ tubuhnya tersebut dengan alasan himpitan ekonomi. Ifan mengaku diopoerasi di salah satu rumah sakit di Jakarta.

Tags: