Tak Semua Rakyat Indonesia Mengerti Bahasa Inggris

Ilustrasi Orang Berdebat

Kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno mengusulkan hal baru pada debat capres-cawapres tahun 2019. Usulannya terkait penggunaan bahasa inggris pada sesi debat. Usulan tersebut membuat para pengguna sosial media ramai-ramai berkicau.

Usulan ini disampaikan oleh Ketua DPP PAN Yandri Susanto. "Boleh juga kali ya (debat kandidat memakai Bahasa Inggris)" kata Yandri di posko pemenangan PAN, Jalan Daksa I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/9).

Usulan itu semata-mata karena presiden yang terpilih nantinya akan bergaul dengan sejumlah pemimpin dunia.

"Walaupun dalam UU tentang kebahasaan itu wajib disampaikan dalam pidato resmi, tapi karena presiden bergaul di dunia internasional, supaya tidak ada miss komunikasi dan salah tafsir dari lawan bicara, ya memang penting juga calon presiden matang dalam menguasai bahasa luar dari bahasa Indonesia itu" Ujarnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon beranggapan usulan Yandri Susanto tentang debat menggunakan bahasa inggris adalah hal yang sah-sah saja. "Kalau ada saya kira bagus-bagus saja. Kita ini kan ada di era globalisasi. Ya kalau pakai bagus, enggak juga enggak apa." kata Fadli di Jalan Kertamegara, Jakarta Selatan, (13/9).

Apa Esensi Debat Capres?

Polemik ini memicu saya untuk mencari tahu mengenai apa sebenarnya esensi debat capres - cawapres, atau debat pada umumnya yang berkaitan dengan politik.

Mari kita belajar bahasa Indonesia, disebutkan bahwa debat dapat diartikan sebagai kegiatan adu argumentasi antar dua kelompok atau lebih yang bersebrangan secara pemikiran, data dan kepentingan.

Dalam wikipedia disebutkan, secara formal, debat banyak dilakukan dalam institusi legislatif seperti parlemen, terutama di negara-negara yang menggunakan sistem oposisi. Dalam hal ini, debat dilakukan menuruti aturan-aturan yang jelas dan hasil dari debat dapat dihasilkan melalui voting atau keputusan juri

Nah dengan memahami secara singkat tentang debat, dapat diketahui bahwa sebenarnya tak ada hal yang diputuskan dalam debat. Yang ada adalah kepentingan suatu kelompok lebih mendominasi dibanding kelompok lainnya. Itu setelah ia mampu mempertahankan argumennya.

Saya pernah mengikuti suatu debat pemilihan Ketua Osis tingkat SMA. Kebetulah hanya ada dua pasang calon waktu itu saya dipertemukan dalam suatu forum debat yang diakomodir oleh Panitia Pemilihan Ketua OSIS.

Setiap calon diberi kesempatan untuk berbicara dalam koridor yang ditentukan panitia, baik waktu berbicara, topik yang dibicarakan hingga pada sanggahan.

Semuanya berlangsung dengan penuh semangat, dari sinilah kemudian saya mulai mengerti bahwa debat pada dasarnya adalah ajang untuk menunjukkan kemampuan dan gagasan apa yang akan diusulkan jika nantinya terpilih sebagai ketua OSIS.

Karena itulah saya akan memberi pandangan mengenai polemik usulan penggunaan bahasa Ingris pada debat Pemilu Presiden 2019 mendatang.

Saya justru khawatir jika usulan ini diterima, maka yang kasihan adalah masyarakat yang secara pengetahuan belum sampai pada tingkatan pikiran dan pemahaman bahasa yang masih kurang.

Bahkan di Indonesia, ada begitu banyak masyarakat yang bahkan bahasa Indonesia saja belum begitu lancar penggunaannya. Apalagi kalau yang digunakan nantinya adalah bahasa Ingris.

Saya ingin mempertegas, bahwa pada debat yang diutamakan adalah gagasan dan kemampuan dalam berargumentasi. Kemampuan ini akan disaksikan oleh para pemilih untuk menentukan arah pilihannya. Dan jika mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan, lalu bagaimana mereka bisa memilih dengan tepat? Yang dibicarakan saja tidak mereka pahami?

Debat Capres-Cawapres bukan ajang pemilihan Ketua OSIS, yang penting teman senang kemudian memilih Anda. Ini bukan debat Kompetitif yang mana pemenangnya diberi peringkat dan hadia yang diatur panitia.

Dabat capres harus dipahami adalah bagian dari demokrasi, sehingga gagasan yang disampaikan dalam debat pun sifatnya demokrasi pun bahasa harus dipahami oleh masyarakat.

Saya justru curiga usulan itu semata-mata muncul karena ada pandangan meremehkan calon lain, seolah-olah calon yang lain tak mengerti menggunakan bahasa Inggris!!