Viral Video Mecaru di Klungkung dan Anggapan Menyiksa Sapi

Tradisi MecaruBali merupakan suatu provinsi yang dikenal sebagai daerah yang memiliki beragam budaya, tradisi, adat istiadat, upacara serta karya seni yang begitu banyak. Provinsi yang dihuni oleh sebagian besar masyarakatnya menganut Hindu ini tentu saja masih memengang erat tradisi turun-temurun yang dipercaya oleh mereka sebagai hal yang lumrah dan layak dilakukan.

Bahkan bila suatu tradisi yang selama ini dilakukan, kemudian ditinggalkan maka hal ini diyakini masyarakat setempat akan membawa dampak negatif. Berbicara mengenai tradisi dan budaya yang diletarikan masyarakat Bali khususnya bagi mereka yang menganut kepercayaan Hindu, maka kita akan menemukan salah satu yang tidak cukup dijelaskan dengan tulisan atau perkataan belaka.

Yang satu ini disebut "Mecaru" dalam terbitan wikipedia dijelaskan bahwa mecaru merupakan upacara yang dilaksanakan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan alam oleh umat Hindu di Bali, Indonesia. Upacara ini juga dalam ajaran Hindu dapat juga disebut sebagai Butha Yadnya.

Butha Yadnya sendiri adalah merawat lima unsur alam, yakni tanah, air, udara, api, dan ether. Upacara mecaru biasanya dilaksanakan sebelum hari raya Nyepi pada waktu Sasih Kesanga.

Selain itu upacara mecaru juga biasanya dilaksanakan di Bali yang tujuannya untuk membersihkan atau menetralkan alam. Baik Parahyangan, Pawongan dan Palemahan.

Untuk upacara yang satu ini kerap dianggap sebagai tindakan penyiksaan atau menyakiti binatang. Karena itulah sebelumnya telah dijelaskan mengenai apa itu mecaru pada pembahasan diatas.

Upacara mecaru yang menjadikan seekor sapi sebagai persembahan ini baru saja digelar di Klungkung, tepatnya di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja.

Video upacara mecaru di Klungkung tersebut tersebar di dunia maya dan mendapat sejumlah tanggapan dari warganet. Karena itulah adalah penting bagi Anda untuk memahami makna dari upacara tersebut.

Mengutip laman Jawapos.com yang memberitakan perihal upacara ini dengan judul "Mejaga-jaga, Tradisi “Cecerkan” Darah Sapi untuk Jaga Desa" dalam liputan tersebut dijelaskan oleh Bendesa Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra didampingi Petajuh, Komang Karyawan. Bahwa upacara ini sudah turun temurun dan belum ada yang berani menghentikannya, sebab diyakini jika tidak dilaksanakan lagi maka akan muncullah malapetaka.

“Sampai sekarang kami tidak berani tak menggelarnya. Ketika tidak dilaksanakan prosesi upacara ini, maka akan terjadi malapetaka,” ujar Bendesa Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra. seperti dilansir Jawapos, Rabu (23/8).

Upacara mecaru mejaga-jaga ini menggunakan seekor sapi pilihan. Tidak boleh cacat. Seekor sapi yang sudah dikebiri itu juga tidak dipilih orang sembarangan. Hanya bisa dipilih oleh keturunan pemangku prajapati, pemangku catus pata, serta pamong dalem.

Sekitar pukul 07.00, sapi yang sudah dimandikan itu bersiap diarak. Sapi yang diikat dengan tujuh tali itu pertama kali diarak ke arah utara sampai di ujung desa sebelah utara. Persisnya di depan Pura Puseh desa setempat. Di sana, digelar proses upacara. Sapi ditebas pada pantat sebelah kanan oleh pemangku catus pata. Sapi tersebut ditebas menggunakan blakas sudamala yang disakralkan. Darahnya pun berceceran.

Kemudian, sapi tersebut kembali diarak krama (warga) menuju arah selatan hingga di batas desa. Persis di depan Pura Dalem, dilakukan proses upacara yang tak jauh beda dengan upacara di perbatasan desa sebelah utara. Sapi ditebas pada pantat bagian kiri. Selanjutnya diarak kembali ke catus pata, sebelum akhirnya diarak lagi ke arah timur sampai di perbatasan desa sebelah timur. Di sana, sapi yang tampak kelelahan itu kembali ditebas pada pantat sebalah kanan.

“Diarak ke barat sampai di depan Pura Prajapti. Kaki belakang mana yang lebih agak ke belakang, itu ditebas. Kemudian kembali ke catus pata untuk upacara selanjutnya,” jelas pegawai di Kelurahan Semarapura Kaja itu.

Pihaknya pun menegaskan, ceceran darah sapi itu diyakini sebagai darah kurban untuk menjaga desa setempat. Baik skala maupun niskala. “Intinya menetralkan atau membersihkan alam. Baik parhyangan, pawongan dan pelemahan,” bebernya.

Menariknya, masyarakat setempat terlihat berebut mencari darah sapi tersebut kemarin. Sebagian besar warga mendapatkan darah sapi itu, mengusapkannya ke wajah. Darah sapi itu dipercaya mengobati penyakit. “Bahkan dulu banyak warga luar desa yang mencari (darah). Diyakini untuk pembersihan diri. Misalnya ketika ada kegeringan,” tandasnya.

Berikut Videonya

Jawapos/Wikipedia