Pura Hyang Api Masuk Druwen (Milik) Desa Adat Buahan

Polemik Pura Hyang Api Terus bergulir

Polemik Pura Hyang Api Terus bergulir

Jakarta, GoSulbar -- Polemik rencana relokasi Pura Hyang Api di Kawasan Tegalan Lenge, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, karena pengembangan kawasan agro wisata di kawasan setempat, masih berlanjut. Pura itu ternyata menjadi salah satu dari 9 druwen (milik) Desa Pakraman/Desa Adat Buahan.

Status Pura yang bernama “Pura Penataran Hyang Api” itu adalah kahyangan desa. Keberadaan pura tersebut termuat dalam awig-awig (Peraturan) desa Pakraman Buahan. Hal tersebut diungkapkan oleh Bendesa Desa Pakraman Buahan, I Wayan Mudiarta alias Mugluk di Gianyar, selasa (23/5).

Mudiarta yang juga perbekel (Kepala Desa) Buahan ini menjelaaskan, ada krama pangempon Pura Penataran Hyang Api yang telah mendatangi dirinya terkkait keinginan investor agro wisata akan merelokasi pura. Krama dimaksud menyatakan penolakan relokasi itu. Alasannya, pura tersebut dibangun oleh para leluhurnya dan telah ditetapkaan posisi kesuciannya. “ Sebagai Parajuru tentu tidak dalam kapasitas menyetujui atau menolak relokasi pura itu”. Jelasnya

Mudiarta menjelaskan, dalam awig-awig dimaksud, pura yang diempon oleh 11 krama tersebut, tertuang dalam Palet Indik Duwen Desa (pasal mengenai milik desa), pawos 24 padruwen desa(kepemilikan), huruf ha indik kahyangan desa (tentang pura kahyangan desa) pada wacakan (hitungan) ke-9. Sedangkan 8 (delapan lainnya) yang tercatat dalam awig-awig, yaitu 1) Pura Kahyangan tiga termasuk Puseh, Pura Desa lan Bale Agung dan Pura Dalem lan Prajapati 2)Pura Melanting 3)Pura Penataran Sang Hyang Tegal 4) Pura Gaduh 5) Pura Braban 6) Pura Ceta 7) Pura Sang Hyang Sri dan 8) Pura Bras Membah.

Mudiarta menjelaskan selama ini belum ada pihak baik langsung dari investor atau perantara investor pembangunan agrowisata di Lenge, Desa BBuahan yang datang menemui dan ,ohon ijin kepada dirinya selaku bendesa atau kepada krama desa pekraman secara langsung melalui samua (rapat) Desa. “Karena itu kami pelajari dulu”, jelasnya.

Terkait keinginan investor tersebut untuk merelokasi pura, Mudiarta mengatakan, tak masalah sepanjang ada persetujuan dari para pangempon pura dank ram desa pakraman Buahan. “Semua keinginan itu masih bisa dibicarakansecaraa terbuka dalam paruman (rapat), soal disetujui atau tidak, itu pasti paruman krama yang akan menentukan, bukan saya”jelasnya.

Sementara itu, slah satu pangempon Pura Hyang Api di Lenge, Buahan, Nyoman Suarya mengatakan, pihaknya tetap akan memperyahankan Pura Hyang Api agar tak direlokasi oleh investor. Meskipun investor telah membuatkan bangunan pura baru tak jauh dari lokasi pura tersebut. “Kalau Investor memaksakan kehendak membongkar pura kami, maka kami pasti laporkan kepada pihak aparat, termasuk PHDI dan unsure terkait lainnya.” jelasnya.

Sementara itu, mantan kelihan Sabha Desa Desa Adat Buahan, I Wayan Suda saat dihubungi per telepon, membenarkan Pura Hyang Api di Lenge itu berstatus Druwen (Milik) desa. Terkait polemic pura itu, pihaknya mohon pihak terkait terutama PHDI Gianyar menengahinya. “Saya di desa Malu kalu polemic ini makin berkepanjangan”. Jelasnya.

Perantara investor pengembangaan agro wisata Buahan, I Wayan Terima mengaku akan mencoba menjajaki lagi para pangempon pura sebagaimana relokasi itu disetujui sebelumnya. Ia juga akan mohon persetujuan dan pengesahan dengan prajuru adat dan dinas di desa. Sebelumnya, proyek pengembangkan agro wisata Buahan , berpolemik karena ada krama pangempon Pura Hyang Api di tegalan Lenge, menolak relokasi pura tersebut. Pura diatas tanah lima are itu akan dipindahkann sekitar 300 meter kea rah timur laut oleh investor agro wisata di lokasi setempat. (bn/nsb)