Polisi Dalami Kasus Sampah Bungkus Kabel

No comment 337 views

kabel8JAKARTA, GoSulbar.com ~ Sampah kulit kabel masih terus diributkan, Gubernur DKI Jakarta bahkan menuding adanya sabotase dalam 'bencana' yang menyebabkan munculnya genangan air. Polisi tengah mendalami kasus sampah bungkus kabel tersebut.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian mengatakan, sebelumnya pada tahun 2015 polisi pernah melakukan penangkapan terhadap pencuri kabel. Dalam operasi tersebut, sedikitnya 4 orang pelaku berhasil diamankan polisi.

"Sudah divonis kasus itu, tapi saya minta dikembangkan jaringannya karena hukumannya rendah. Januari (2015) ditangkap kemudian April divonis. Sekarang kita cek ke lapas pelakunya sudah keluar dan sebagian pelaku lainnya ada yang melarikan diri, penadahnya pun saat itu melarikan diri" kata Tito di Jakarta, Jumat (4/3).

Kapolda Tito melanjutkan, waktu itu Polsek Gambir menyita puluhan batang kabel. Berkaitan kasus pencurian kabel kali ini, polisi telah berkoordinasi dengan pihak PLN untuk mencocokan bekas bungkus kabel dengan dokumentasi polisi saat menangkap para pelaku pencurian.

"Sementara dari hasil koordinasi Telkom dan PLN, temuan barang bukti, temuan kasus di Gambir kemudian ada foto batangan yang lama itu yang diambil dan bentuk kabelnya itu sama dengan PLN," lanjut Tito.

Dugaan sementara, sampah bungkusan kabel itu adalah milik PLN yang dicuri oleh sindikat pencuri kabel. "Kita duga itu, kabel PLN yang dicuri yang sudah tidak terpakai, kemudian dicuri kabelnya batangannya nggak diambil," tambahnya.

Kabel listrik bekas memang kerap dimanfaatkan oleh pelaku pencurian, sebab masih memiliki nilai ekonomis yang bisa dijual kembali. Pencuri memanfaatkan tembaga jaringan kabel untuk dijual ke penadah.

"Itu pernah disita tahun 2015 puluhan batang itu sudah dipotong satu meter satu meter padahal tembaga itu nilainya Rp 40 ribu per kilo. Bagi orang-orang tertentu ini adalah peluang untuk mendapatkan uang itu ada nilai ekonomisnya," lanjutnya.

Adapun para pelaku hanya memotong bagian gulungan tembaganya di lokasi, sementara bungkusannya ditinggal begitu saja karena tidak memiliki nilai elonomis.

"Kelompok tertentu yang pemulung yang seperti tahun 2015, itu dipotong-potong kemudian bungkusnya gak diambil. Namanya pencuri juga mencari keuntungan, nanti kalau bungkusnya numpuk memenuhui saluran air dia juga nggak peduli itu," pungkasnya. (nv/dt)