Peradah DKI dan KMHDI DKI Sukses Gelar Kegiatan Temu Tokoh Nasional

Novri, (Ketua Peradah DKI/baju kuning paling kanan), selanjutnya Kombes Pol Sulistyo, Berikutnya Arya Wedakarna (Anggota DPD RI/paling tengah), Tri Handoko (Ketum ICHI/Baju batik), dan Nara Asnanda (Ketua KMHDI DKI)

Jakarta, Gosulbar.com -- Dewan Pimpinan Provinsi Peradah Indonesia DKI Jakarta (DPP Peradah Indonesia DKI Jakarta) bersama Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia DKI Jakarta (PD KMHDI DKI) menggelar kegiatan temu Tokoh nasional.

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung GBHN MPR RI, Minggu, (01/07/18). Hadir dalam kegiatan yakni DPD RI Dr. Arya Wedakarna. Dua tokoh lainnya yang ikut hadir ialah Ketum ICHI, Tri Handoko Seto dan juga utusan dari Mabes Polri, Kombes Pol Sulistyo.

Ketiga Tokoh tersebut menjadi pembicara dalam Talkshow yang bertajuk "Peran Pemuda dan Mahasiswa Dalam Mewaspadai Gerakan Radikalisme dan Terorisme".

Arya Wedakarna mengapresiasi keberanian Peradah dan KMHDI memilih tema demikian yang disebutnya sedikit "sensitif (red)"

"Apresiasi buat Peradah dan KMHDI sudah berani memilih tema ini (red)" ujarnya.

Dirinya berharap kedepannya pemuda Hindu penuh dengan optimis dan jangan berpikir soal minirotasnya.

"Anak muda Hindu jangan berpikir pesimis, jangan memikirkan soal minoritas di kalangan mayoritas, anak muda Hindu harus berani berprestasi" lanjutnya

Sementara itu, Tri Handoko memaparkan mengenai konsep-konsep dasar mengenai arti Radikal dan pengaruhnya kepada masyarakat. Ia menyampaikan pentingnya memahami radikal dan gerakan-gerakan dalam bentuk apapun di Indonesia.

"Jadi kita perlu memahami dulu radikal itu apa? Jadi sangat penting dipahami berbahaya atau tidaknya radikal" kata Tri Handoko.

Ia mengatakan radikal bisa saja tidak negatif jika sekedar dilihat dari artinya.

"Jadi radikal itu pada dasarnya adalah hal yang bersifat benar-benar prinsip, tapi kemudian dinilai negatif setelah adanya paham tertentu, yang selanjutnya disebut Radikalisme" lanjutnya.

Adapun Kombes Pol Sulistyo memaparkan mengenai konsep-konsep penanganan mengenai Radikalisme di Indonesia saat ini.

"Radikalisme pada dasarnya berarti ide ata prinsip politik yang berfokus untuk mengganti struktur sosial-politik melalui cara-cara revolusioner (revolutionary) dan mengubah sistem norma serta nilai-nilai sosial secara mendasar." jelas Sulistyo.

Sejumlah materi yang dipaparkan Kombes Pol Sulistyo tidak untuk konsumsi publik dan hanya dipaparkan dalam seminar.

"Bagian ini jangan dicopy, bapak jangan foto (slidenya,)" jelasnya kepada peserta. (Gosulbar)