‘Media jangan Mainkan Pemberitaan Soal Reklamasi Teluk Benoa’

GoSulbar.com ~ Masyarakat Bali dengan tegas menolak Reklamasi Teluk Benoa, bahkan dengan dalil apapun itu. Reklamasi yang menganggarkan uang senilai Rp 80 triliun itu menuai kontroversi besar-besaran. Tak hanya orang Bali yang menyuarakan penolakannya terhadap reklamasi Teluk Benoa. Bahkan masyarakat luar Bali juga turut menolak.

Soal Reklamasi Teluk Benoa, masyarakat harus cerdas dalam memilih informasi. Hal ini disebabkan banyaknya media yang tampak mendukung realisasi Reklamasi Teluk Benoa Bali.

Fungsi dari media pada dasarnya adalah memberitakan fakta-fakta seputar peristiwa di lingkungan di mana anggota pers melakukan peliputan. Namun nyatanya ada beberapa media yang saat ini justru dimanfaatkan untuk menyebar berita 'seakan-akan masyarakat Bali setuju dengan reklamasi dengan dalil revitalisasi'

Kepintaran penulis atau jurnalis pro reklamasi dalam mengaduk informasi bisa mempengaruhi pikiran masyarakat. Prinsip pro reklamasi adalah selalu menyebar berita perlawanan terhadap yang kontra. Tujuannya adalah supaya masyarakat berubah pikiran, tetapi untuk berubah pikiran bukanlah hal yang mudah.

Menyoal pernyataan Adian Napitupulu soal reklamasi Teluk Benoa

Anggota DPR dari fraksi PDIP, Adian Napitupulu, menuai sentimen negatif di media sosial. Hal tersebut menyusul lontarannya seputar rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali.

Lebih kurang, Adian menyebut, saat ini tak ada lagi masalah seputar perizinan reklamasi Teluk Benoa. Pernyataan tersebut disampaikan Adian dalam forum diskusi publik soal evaluasi dan proyeksi pembangunan Bali (2016-2020) di Auditorium Widya Sabha Utama, Universitas Warmadewa, Denpasar, Selasa (2/2/2016).

"Dengan rapat temen-temen Komisi VII no problem, begitu juga pimpinan MPR. Menteri Susi juga kan mensyaratkan agar akses lingkungan diperhatikan, itu kan kewajiban," kata aktivis mahasiswa angkatan 98 itu, seperti dilansir Tribun Bali.

Adian pun menyebut proses reklamasi Teluk Benoa, akan mempertimbangkan aspek kultural dan ekonomi masyarakat.

Penyair Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa: Ini Amarah Suci

Ribuan warga Bali dari berbagai elemen melakukan aksi demonstrasi menolak reklamasi Teluk Benoa pada Jumat, 29 Januari 2016. Unjuk rasa ini sekaligus untuk mengawal pembahasan uji publik Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) reklamasi Teluk Benoa di Kantor Gubernur Bali.

Ribuan orang yang mengikuti aksi demonstrasi ini berasal dari desa-desa adat pesisir dekat lokasi reklamasi. Berbagai kalangan seniman juga ikut mendukung perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa. Aksi mereka berpusat di depan Kantor Gubernur Bali.

“Kita semua datang membawa amarah suci dalam barisan menolak reklamasi Teluk Benoa,” kata penyair I Wayan ‘Jengki’ Sunarta saat berorasi di depan massa.

Dalam kesempatan tersebut, Jengki juga membacakan puisi berjudul Teluk Benoa. Ditemui Tempo usai orasi, Jengki mengatakan puisi itu ditulis sejak Agustus 2015 lalu sebagai wujud aspirasinya menolak reklamasi.

14 Banjar di Bali Deklarasi Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Warga Kelurahan Kuta, Bali, yang terdiri atas 14 banjar mendeklarasikan pernyataan sikap menolak reklamasi Teluk Benoa. Aksi penolakan reklamasi tersebut berpusat di Pantai Kuta. Masing-masing tokoh masyarakat dan para pemuda desa setempat menyampaikan orasi untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Masyarakat sudah terbangun kesadaran dan keyakinannya yang penuh menyatakan sikap menolak reklamasi Teluk Benoa,” kata Ketua Forum Kepala Lingkungan Kelurahan Kuta, Nyoman Punia, di Pantai Kuta, Minggu, 17 Januari 2016.

Penolakan tersebut, kata Punia, tidak asal ikut-ikutan saja. Namun sudah melewati proses yang cukup panjang dari berbagai rapat-rapat banjar dan desa adat.

“Masyarakat di Kuta menyuarakan penolakan rencana reklamasi ini setelah mendapat edukasi yang cukup panjang. Reklamasi membawa dampak yang luar biasa buruk, dibandingkan dengan keuntungan ekonomi pragmatis yang tidak seberapa,” ujarnya.

Punia menjelaskan deklarasi ‘Kuta Bergerak, Selamatkan Ibu Pertiwi’ tak lepas dari filosofi dalam kepercayaan umat Hindu di Bali mengenai laut sebagai pusat ritual.

“Dalam ajaran agama Hindu, laut adalah ibu kita, kita sebagai anak-anaknya wajib menghormati, menyelamatkan, dan menjaga kehormatan ibu kita. Laut adalah kawasan suci, Teluk Benoa adalah kawasan situs-situs suci. Kalau itu diuruk, maka tempat melakukan persembahyangan untuk melakukan ritual itu akan hilang,” tuturnya.

Kendati perjuangan dari berbagai elemen masyarakat lainnya yang memperjuangkan penolakan reklamasi sudah berjalan selama hampir tiga tahun. Punia menilai perlawanan masyarakat Kuta untuk menolak reklamasi tidak akan pernah kandas. Menurut dia, ini akan menjadi kekuatan tambahan untuk bisa menghentikan rencana reklamasi di Teluk Benoa. (tc/nv).