Kemuliaan Itu di Tana Toraja, Namanya Rambu Solo

Gosulbar.com -- Tak ada takut-takutnya, sejumlah anak kecil tampak asik bermain di atas suatu tongkonan tempat Jenazah almarhum Petrus Bu’tu disemayamkan. "Mereka semua sudah terbiasa" kata Yusuf, anak almarhum saat kami bertamu ke rumahnya beberapa waktu lalu.

Di rumah tongkonan inilah, Almarhum Petrus Bu’tu disemayamkan dan hanya menunggu beberapa waktu lagi akan segera diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya (baca dikuburkan).

Baca Juga: Siapa dibalik Akun ‘Sary R’ Penghina Tradisi Rambu Solo Khas Toraja

Namun sebelum dikuburkan, keluarga bersepakat untuk melaksanakan suatu Upacara Rambu Solo' (upacara kematian). Almarhum Petrus Bu’tu empat tahun sudah disemayamkan dan dianggap masih hidup hanya sakit. Dan selama waktu itu pula, Jenazah akan diperlakukan layaknya orang sakit, dirawat serta disediakan makan untuknya layaknya orang yang masih hidup.

Baca Juga: Video Peti Jenazah Jatuh Saat Prosesi Adat Rambu Solo di Toraja

Keluarga mengatakan, "Menunggu kesepakatan keluarga. Setelah keluarga sepakat, khususnya kami, anak-cucu, baru diadakan persiapan untuk pemakaman,” ujar salah seorang menantunya, Yusuf Rante Bunga, seperti dilansir tirto.id.

Lamanya jenazah disemayamkan dalam suatu Upacara Rambu Solo di Toraja tidak selamanya empat tahun, ada juga yang hanya setahun dan bahkan ada pula hingga puluhan tahun.

Bahkan lamanya jenazah disemayamkan tidak menutup kemungkinan akan ada pula keluarga yang meninggal selama tahun-tahun itu. Ismail Solli, seorang kerabat Yusuf Bunga, ada yang memakamkan tiga jenazah sekaligus dalam satu rangkaian rambu' solo.

Banyaknya perangkat yang disiapkan untuk menyelenggarakan upacara ini, dinilai Yusuf Rante Bunga membutuhkan biaya yang mahal. Bisa mencapai miliaran katanya untuk membangun lantang (pondok-pondok) yang nantinya akan dijadikan tempat istirahat keluarga yang datang dari tempat jauh. Selain itu 'babi' yang disembelih pada upacara ini sudah pasti mencapai ratusan jumlahnya. Selain babi, Yusuf menerangkan sudah pasti akan menyembelih sedikitnya 40 ekor kerbau.

Tak semua orang bisa diupacarai sebesar ini, Petrus Bu’tu dianggap salah satu tokoh masyarakat di kampung. Ia pernah jadi juru tulis pada masa muda. Ayah 9 anak, kakek 28 cucu, dan buyut dengan 14 cicit ini masih bersemayam di tongkonan—rumah khas Toraja—milik keluarga besarnya.

Saat saya datang ke sana, 5 Juli lalu, saya melihat kerbau-kerbau dikumpulkan di tongkonan tempat upacara diadakan. Upacara ini biasa disebut sebagai ma’pasa’ tedong (mengumpulkan kerbau). Upacara rambu solo untuk almarhum Petrus Bu’tu terbilang istimewa. Tak lain karena ada ma’pasilaga tedong (adu-kerbau), yang diminati banyak orang Toraja. Tak semua rambu solo ada adu kerbau. Hanya golongan yang dianggap tinggi yang biasa mengadakan adu kerbau.

Esoknya, acara disusul dengan memperingati saat-saat terakhir sang almarhum. Acara ini disebut ma’karu’dusan atau ma’puli. Pada hari ini ada acara pemotongan dua ekor kerbau oleh pemotong kerbau (patinggoro tedong). Dalam pemotongan kerbau ala Toraja, kerbau yang akan disembelih biasanya dibiarkan berdiri dan leher kerbau ditebas secepat mungkin dan kerbau dibiarkan menggelepar dan jatuh. Seekor babi juga disembelih.

Tak lupa, keluarga mengadakan doa bersama secara Kristiani di depan tongkonan, dan tak jarang dalam bahasa Toraja. Setidaknya keluarga ikut serta.

Hari berikutnya acara cukup berat. Usai doa pagi dan sarapan, alat-alat untuk upacara dikumpulkan, yang disebut manombon. Lalu ada kegiatan menarik batu simbuang yang disebut mangriu’ batu. Kemudian, batu simbuang yang ditarik tadi ditegakkan dan ditanam (mangosok simbuang). Ada beberapa batu ditanam berjejer. Selain menanam batu, keluarga menyiapkan sebuah menara kayu untuk pembagian hewan (bala’kayan).

Pada hari itu juga jenazah Ne’ Bu’tu diturunkan dari tongkonan ke lumbung. Bentuk lumbung adalah miniatur dari tongkonan. Dalam masyarakat Toraja, letak tongkonan dan lumbung—biasanya untuk simpan padi—berseberangan. Tongkonan selalu menghadap ke utara, lumbung ke arah selatan.

Sebelum dipindah ke lumbung, Ne’ Bu’tu sudah bersalin peti.

Hari Minggu tak ada kegiatan di tempat acara. Minggu adalah hari istirahat bagi umat Kristiani di Toraja.

“Ini upacara yang lengkap,” kata Otto Mitting, seorang pemandu wisata di Tana Toraja, ketika mengantar turis-turis mancanegara ke acara ini.

Kerbau Sebagai Kendaraan Arwah Menuju Gerbang Puya

Allo katongkonan besar-besaran dilakukan pada hari Selasa, 10 Juli. Rambu solo untuk almarhum Ne’ Bu’tu makin naik pamor. Tak hanya ramai oleh orang kebanyakan, tapi juga dihadiri oleh golongan bangsawan.

Raja Gowa, Datu Luwu beserta perangkat adatnya, juga wakil dari kerajaan lain hadir dalam acara allo katongkonan. Para tamu agung Sulawesi Selatan ini dijamu di lumbung terbaik yang disediakan oleh pihak keluarga, persis di seberang lakkian. Dalam acara hari ini, tiga ekor kerbau dipotong. Daging-daging kerbau itu diberikan kepada tamu. Sebuah lembaran silsilah raja di Sulawesi Selatan, yang akarnya dari Tana Toraja, juga diperlihatkan.

Selain para bangsawan Sulawesi Selatan—yang sebetulnya serumpun itu, hadir pula orang-orang lain. Para tamu selain bangsawan itu dijamu di pondok besar megah yang dibuat keluarga almarhum. Masih di dekat lakkian, mereka disuguhi pertunjukan musik bombong (bambu), selain kuda lumping khas Tana Toraja. Seperti hari sebelumnya, beberapa orang Toraja menari beramai-ramai dengan khidmat dalam suatu prosesi yang dikenal sebagai ma’badong.

“Ma’badong adalah melagukan badong dalam gerak khas […] himne itu tak lain ialah pengagungan si mati. Di dalamnya diceritakan asal-usulnya dari Langit, masa kanak-kanaknya yang penuh bahagia, amal kebaikannya, semua hal yang terpuji,” tulis Theodorus Kobong dalam Injil dan Tongkonan: Inkarnasi, Kontekstualisasi, Transformasi (2008: 52).

Kerbau yang dipotong di Tana Toraja biasanya berjalan dalam satu tebasan oleh patinggoro. Beberapa patinggoro terlibat dalam penyembelihan besar-besaran kali ini. Kerbau dipotong satu per satu. Setelah salah satu kaki terikat, barulah patinggoro menebasnya dengan pisau tajam hingga leher kerbau terbuka, jalur napas hilang, dan darah mengalir.

Beberapa kerbau pertama, meski telah tertebas lehernya dan mengeluarkan banyak darah, masih mampu berdiri. Pemotongan kerbau yang tak selalu mudah ini rupanya menjadi hiburan bagi yang menonton.

Seekor kerbau bahkan melarikan diri dari sekitar arena. Usai ditebas, si kerbau masih mampu berdiri. Untuk menghindari bahaya, patinggoro pun melukai kedua kaki belakang kerbau tersebut. Tetap saja si kerbau mampu berjalan. Namun, ada banyak kerbau yang mudah ditebas dan tak lama kemudian jatuh tanpa berlama-lama.

Bagi semua keluarga yang mengadakan rambu solo, sang almarhum diharapkan bisa mencapai dunia langit, menjadi dewa pelindung atau deata. Ia telah menunggangi arwah kerbau alias tedong lewat tarian bernama badong, tarian khas Toraja saat para penari membentuk lingkaran dan mengaitkan masing-masing kelingking dan melantunkan hikayat sang almarhum.

Dari sanalah, sang arwah Petrus Bu’tu melesat menuju gerbang Puya, bertemu dengan para leluhur.

Sumber: Tirto.id