Ribut di Sosial Media Soal Pilkada Mamasa

No comment 172 views

PilkadaJakarta, GoSulbar.com -- Dampak pilkada terhadap sosial masyarakat adalah hal nyata yang sudah dialami sejak dulu. Hal ini menempatkan pilkada sebagai salah satu pesta yang rumit. Mendengar kata pesta tentunya yang terbersit adalah kegembiraan dan kegirangan. Pilkada Mamasa seharusnya pula demikian.

Akan tetapi karena ini merupakan ajang politik sehingga tentu nuansa pestanya akan berbeda daripada pesta pada umumnya yang dikenal masyarakat luas.

'Ribut' di Sosial media soal Pilkada Mamasa bukan kali ini saja terjadi dan pastinya 'keributan' pendapat juga terjadi di luar sosial media. Tapi sosial media sengaja penulis pilih sebagai bahan tulisan sebab inilah yang paling mudah dicontohkan.

Kata ribut yang penulis gunakan disini bukan memaknai arti ribut (Tonjok-tonjokan) sebenarnya. Kata ribut disini ialah makna sebenarnya dalam bentuk argumen tulisan atau komentar pengguna sosial media yang merasa memiliki afiliasi dengan tanah Mamasa.

Sangat penting diketahui bahwa keributan semacam ini bisa saja terjadi sebagai akibat dari kurangnya kontrol terhadap sisi emosi setiap individu yang sedang beradu argumen. Mengapa saya katakan kurangnya pada segi kontrol emosi? Alasannya saya tidak menggunakan kata 'kurangnya pengetahuan' sebab saya sadar, bahwa yang silang pendapat di sosial media datang dari kalangan terdidik. Bahkan adapula yang masuk dalam kategori profesional dalam sejumlah bidang dan tingkatan.

Istimewa untuk diulas mengenai ribut-ribut di sosial media mengenai Pilkada Mamasa, lantaran Pilkada kali ini hanya akan diikuti oleh satu pasangan calon Bupati saja. Sementara yang akan dilawan isinya kosong alias kotak kosong.

Meski demikian adapula sebagian besar kalangan yang tetap berjuang, agar supaya yang menang adalah kotak kosong. Kotak kosong atau koko begitulah pengguna media sosial mempersingkat dua kata (Kotak Kosong).

Tidak tanggung-tanggung memang, bahkan ada yang sampai mendirikan laskar, yang sudah pasti tujuannya adalah membangun kekuatan supaya Pilkada Mamasa tidak dimenangkan oleh Paslon tunggal.

Sedikitnya ada 117.541 (Seratus tuju belas ribu lima ratus empat puluh satu) jumlah pemilih yang akan menentukan siapa pemimpin Mamasa berikutnya. Jumlah ini merujuk pada data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) 2017.

Dampaknya

Dampak dari ribut-ribut di Sosial media sangat banyak, mulai dari tekanan mental, potensi pada keributan di luar meski semoga tidak terjadi. Selain itu ribut-ribut di Sosial media juga bisa saja berujung ke Polisi. Anda sudah tidak asing lai jika mendengar sejumlah orang yang dipanggil polisi lantaran menimbulkan kekacauan di Sosial media.

Melalui tulisan ini ada harapan besar penulis, yakni semoga semua yang terjadi di sosial media hanya tulisan belaka dan tidak berdapak pada dunia nyata. Dan tentu saja semoga Pilkada Mamasa bisa berjalan dengan baik serta damai.