Penyuluh Hindu di Mamasa harus Meneliti dan Menulis Kemasyuran Aluk Todolo

Pelaksanaan Ritual dalam Ajaran Aluk Todolo di Mamasa

Setahun yang lalu ketiga anak berikut sebut saja Mel, Mei dan Odo' (bukan nama sebenarnya) masih mengikuti kegiatan yang kerap digelar Peradah Kabupaten Mamasa. Kegiatan yang sedari beberapa tahun diberi Tagline Manuk A'pak.

Mereka tampak antusias ikut meski tak turut mewakili suatu grup atau kontingen kepemudaan Hindu. Namun ia hadir bersama orang tuanya. Begitulah hingga tiga kali kegiatan berturut dilaksanakan.

Belakangan ketiganya sudah tak ikut kegiatan Manuk A'pak lagi. Mereka rupanya baru saja 'melepas baju' yang sudah turun temurun diemban dari leluhur hingga pada orang tuanya.

Ibunya bernama 'Tosule' (bukan nama sebenarnya) lebih memilih pindah ke ajaran agama lain yang saat ini sudah menjadi mayoritas di Mamasa. Konon katanya, Tosule memiliki nasar akan pindah agama lantaran sakit-sakitan.

Lain lagi dengan 'Masakke' (bukan nama sebenarnya) juga sudah pindah agama dan meniggalkan ajaran leluhur Aluk Todolo. Saya kenal betul dengan 'Masakke'.

Tahun 2011 silam saya pergi dari kampung halaman menuju Jakarta usai lulus dari SMA lanjut Kuliah di STAH DN Jakarta. Masakke baru dua tahun menggelar acara pernikahan anak perempuan keduanya. Acara pernikahan itu berlangsung dengan sangat meriah.

Mempelai pria menyerahkan uang sebesar 50 Juta rupiah untuk menggelar resepsi. Empat tahun berselang usai resepsi atau dua tahun lamanya saya meninggalkan kampung halaman, tersiar kabar bahwa Masakke sudah pindah agama.

Alasan pindah agama dan meninggalkan ajaran Aluk Todolo, lantaran ia bernasar atau bersumpah, ketika itu anak perempuannya hendak melahirkan anak pertama. Namun persalinan anaknya begitu sulit, sumpahnya adalah "lahirlah cucuku, kelak jika kau lahir maka, akupun akan ikut agama ibumu" begitulah kira-kira.

Adapun 'Tandia' dan 'Meria' (nama keduanya disamarkan) masih punya hubungan kekerabatan erat dengan saya. Tandia sudah hampir tujuh tahun silam memilih meninggalkan Aluk Todolo setelah menikahi wanita pujaannya yang memiliki kepercayaan berbeda dengannya. Sebenarnya dia pernah menjadi sangat idealis dan kukuh dalam menjaga ajaran Aluk Todolo.

Adapun Meria memilih pindah agama dan meninggalkan ajaran Aluk Todolo lantaran tak tahan dikatain kuno, tidak gaul, dirinya menyembah berhala. "Masak mengadakan ritual kok dipinggir sungai, kok dihutan, kan ada rumah. Kenapa bukan dirumah saja" serangan kata-kata ini sudah tak mampu ia tahan lagi hingga memilih pergi dari ajaran leluhurnya.

Empat kisah nyata diatas telah ditulis dengan sebenarnya menggunakan sudut pandang orang pertama namun, nama mereka disamarkan demi menjaga hak-hak pribadi dalam menentukan pilihan dan kepercayaan setiap individu. Penulis tidak bermaksud mengganggu kebebasan dalam beragama, artikel ini semata kajian singkat, bahwa pada akhirnya yang tetap memegag teguh ajaran Aluk Todolo adalah yang mampu mengantisipasi gerus jaman yang kian maju dan kejam.