Dampak Psikologis Yang Bisa Timbul Akibat Gempa Menurut Ahli

Potret Data BMKG Soal Gempa Mamasa pada 6 November 2018 Lalu

Gosulbar.com -- Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang bisa saja terjadi kapanpun dan dimana pun tanpa diketahui secara pasti waktu dan kekuatannya. Namun dampak psikologis dari gempa tersebut sudah pasti dialami oleh masyarakat.

Dampak psikologis akibat gempa dan tsunami menurut para ahli, kami ulas untuk Anda pada tulisan kali ini.

Serentetan gempa yang terjadi belakangan salah salah satunya Gempa Donggala dan Palu pada Jumat petang, 28 September 2018, sebesar 7,7 Skala Richter yang kemudian dimutakhirkan menjadi 7,4 SR. Gempa ini disebutkan menelan ratusan korban jiwa, selain itu juga meninggalkan efek kerusakan yang cukup parah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan korban tewas sementara 832 orang, kebanyakan akibat tertimpa bangunan dan diterjang tsunami. Sedangkan masyarakat yang selamat dari terjangan tsunami merupakan masyarakat yang mengevakuasi diri ke tempat tinggi di sekitar pantai Kota Palu.

Efek Psikologis Akibat Gempa

Korban tsunami yang selamat mungkin secara fisik mereka tampak tak kurang suatu apapun. Namun, masalah psikologis mengancam hidup mereka dalam beberapa hari dan minggu pasca kejadian. Ini bahkan bisa berlanjut selama bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidup.

Baca Juga:

Mamasa Kembali Diguncang Gempa Kekuatan 3 SR Hingga 4,2 SR

Gempa 4 SR Guncang Mamasa Terasa Hingga Toraja

Korban umumnya merasa cemas dan stres karena merasa hidup mereka terancam oleh tsunami yang mungkin bisa terjadi lagi. Mereka juga menderita kesedihan karena tahu orang-orang yang mereka sayangi tidak bisa selamat dari bencana tersebut. Ada juga orang-orang yang merasa tertekan karena kehilangan rumah, uang, atau bisnis mereka karena tsunami.

"Dampaknya luas sekali karena mengganggu seluruh aspek kehidupan korban, apalagi jika korban juga kehilangan anggota keluarganya. Dampak yang terjadi baik secara fisik maupun psikologis. Untuk saat ini dimana situasi masih gawat darurat, tentu korban masih diliputi ketakutan atau kecemasan akan terjadi lagi gempa susulan, kesedihan yang mendalam karena kehilangan keluarga, tempat tinggal dan sebagainya dan juga sakit akibat luka fisik yang diderita," kata Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, kepada Tempo melalui surat elektronik, Minggu (30/9/ 2018).

Vera juga menjelaskan bahwa tsunami berdampak pula pada psikologis anak, dan kurang lebih sama seperti yang dialami orang dewasa.

"Dampak yang dialami anak kurang lebih sama dengan yang dialami orang dewasa. Namun anak bisa mengalami kebingungan, bisa berwujud rewel, bertanya terus, menuntut pulang ke rumah dan lain-lain," katanya.

Korban Cenderung Lebih Sensitif

Setelah bencana, korban cenderung lebih sensitif terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Ingatan, suara, bau, sensasi, dan perasaan dalam hati akan selalu membuat mereka terngiang akan bencana alam yang meskipun sudah lama berlalu. Trauma tersebut bahka bisa menghancurkan mental, pandangan, dan reaksi emosional korban.

Seperti yang dilansir dari nctsn.org, ingatan umum tentang retakan di dinding, suara reruntuhan, bangunan yang dihancurkan, bau api dan asap, pemakaman, sampai berita di televisi akan tetap menghantui korban yang trauma. Penelitian tentang efek bencana alam pun menemukan beberapa dampak psikologis yang biasa dialami oleh para korban.

Karena keterbatasan pemahaman atau pemikiran anak, Vera menyarankan agar orang tua atau orang dewasa menjelaskan kepada mereka tentang apa yang terjadi dan menenangkan para anak pasca gempa. Selain itu, di balik dampak psikologis dari gempa bumi yang mengerikan tersebut, tentunya ada layanan terapi yang bisa diberikan pada korban untuk membantu mereka pulih dari mimpi buruknya.

Sumber: merdeka.com dan lifestyle.bisnis.com