Stevia Dia Hanya Pemanis, Bukan Gadis

No comment 110 views

Stevia Dia Hanya Pemanis, Bukan Gadis

Gosulbar.com -- Secercah bubuk putih nampak menempel di ujung jari kelingking, rasanya sangat manis tatkala dicicipi namun, tak berselang lama setelahnya mulai terasa pahit. Rahmana Emran Kartasasmita, tim peneliti dari Sekolah Farmasi ITB, menyebutkan "Itu saking manisnya" Rabu siang (11/7/2008).

Kepada beritagar.id, Emran memperlihatkan serbuk pemanis alami dari senyawa tanaman Stevia. "Manisnya 300 kali lipat dari gula biasa,” ujar dosen di Kelompok Keahlian Farmakokimia Sekolah Farmasi ITB itu. di salah satu ruangan gedung Sekolah Farmasi Laboratorium Teknik VII ITB.

Emran menerangkan, tak butuh banyak untuk mengubah air menjadi manis rasanya. Taburkan saja 30-40 miligram Stevia. Bedanya lagi kata Emran ialah bubuk Stevia bersifat nonkalori dan tanpa efek samping, sehingga aman untuk dikonsumsi.

Stevia rebaudiana Bertoni, begitu nama latin dari tanaman Stevia tersebut punya sejarah panjang dalam kehidupan manusia. Masyarakat Guarani yang berada di Amerika Selatan, telah memakai tanaman itu lebih dari 1.500 tahun lamanya. Habitat asli tanaman stevia, menurut Emran, berada di benua Amerika Latin.

Selama beratus-ratus tahun, Masyarakat tradisional Brasil dan Paraguay memanfaatkan daun Stevia sebagai pemanis buat teh dan atau obat alami.

Stevia yang manis sudah lama dijadikan pemanis pula di negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Malaysia, dan kini masuk ke negeri tirai bambu (baca China).

Stevia pemanis dari Ciwidey Bandung, Indonesia disebut-sebut kualitasnya lebih baik dibanding Malaysia, “Iklim Indonesia lebih bagus dari Malaysia, dataran tinggi daerah Bandung selatan juga paling cocok,” lagi kata Emran yang melakukan penelitian.

Morfologi

Secara fisik Stevia bisa tumbuh dengan bercabang banyak, tingginya berkisar 60-90 Sentimeter. Tampak daun lonjong warnah hijau dengan pinggirannya bergerigi. Sedikit ada bulu pada batangnya.

Tanaman itu cocok tumbuh pada ketinggian 800-1200 meter dari permukaan laut (mdpl), dengan suhu antara 21-34 derajat celcius, atau rata-ratanya 24 derajat celcius, dan bercurah hujan 1.375 milimeter per tahun.

Masa panen tumbuhan ini tergolong pendek. Tiga bulan setelah penanaman, stevia mulai bisa dipanen. Tanda waktu panen dilihat dari daunnya yang tumbuh dengan lebat.

Masa panen harus mendahului munculnya bunga. Jika tidak, kemanisan daun stevia akan berkurang, pun jika tanamannya dinaungi pohon besar. Cara panen cukup memetik daun seperti pada tanaman teh. Selanjutnya panen daun bisa rutin dilakukan per tiga minggu. “Stevia harus dijaga supaya tidak jadi tanaman liar apalagi sampai kawin silang dengan tanaman lain,” kata Emran.

Per hektar lahan bisa ditanami sekitar 50 ribu bibit. Kapasitas produksinya mencapai 12 ton daun stevia basah per tahun. Setelah daunnya dikeringkan dengan cara dijemur sinar matahari bobotnya menciut jadi 1,2 ton.